GANGGUAN KEJIWAAN TOKOH IBU DALAM GENESIS

Secara umum psikologi berarti ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia, sedangkan sastra adalah karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia. Menurut Atar Semi Pendekatan psikologi sastra bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Semi juga berpendapat bahwa psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner.

Genesis adalah salah satu novel yang dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi sastra. Novel karya Ratih Kumala ini menampilkan salah satu tokoh yang mengalami gangguan kejiwaan, yaitu tokoh ibu (ibu dari Pawestri sebagai tokoh utamanya) yang diceritakan terganggu kesehatan jiwanya. Novel Genesis bercerita tentang seorang gadis bernama Pawestri, yang dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum menikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga, sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima. Problem kehamilannya tanpa suami membuat Pawestri dikutuk oleh ayahnya. Ia tidak diakui lagi sebagai anak, diusir dari rumah, dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarga. Sementara ibunya yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Namun kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan,yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Luka karena kehilangan dan tekanan-tekanan suami membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah Pawestri ada. Akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit jiwa.

Gangguan kejiwaan yang di alami tokoh ibu adalah depresi dan skizofrenia, kemudian tokoh ibu mengalami halusinasi. Penyimpangan pada perilaku tokoh Ibu disebabkan oleh kehilangan seorang anak dan akibat tekanan batin yang di alaminya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah anaknya Pawestri yang sudah lama meninggalkan rumah, ada didekatnya.

Psikoanalisis Sigmund Freud sebagai suatu pendekatan dapat pula digunakan dalam kaitannya dengan sebuah karya sastra. Utamanya dalam usaha memasuki karakter tokoh-tokoh yang terdapat di dalam suatu karya sastra, psikoanalisis menyentuh unsur dasar dari alam pikir manusia. Pendekatan ini berusaha memahami karya sastra sebagai sebuah kreasi yang tidak dapat dilepaskan dari aspek psikologis. Sigmund Freud adalah tokoh pertama yang menyelidiki kehidupan jiwa manusia berdasarkan pada hakikat ketidaksadaran. Menurut Freud, peran yang sangat penting dipegang oleh ‘yang tak sadar’ tersebut karena semua proses psikis bersumber pada ‘yang tak sadar’.

Pemikiran Freud dalam teori psikologi kepribadiannya mencoba memotret manusia baik dari fisik maupun psikisnya. Dalam teori psikologi kepribadian, Freud membagi struktur kepribadian menjadi tiga unsur, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah dorongan-dorongan primitif yang harus dipuaskan. Dengan demikian id merupakan kenyataan subjektif primer, dunia batin sebelum individu memiliki pengalaman tentang dunia luar. Ego adalah kepribadian implementatif yang berupa kontak dengan dunia luar. Ego bertugas untuk mengontrol id. Sedangkan superego adalah sistem kepribadian yang berisi nilai-nilai aturan yang bersifat evaluatif (menyangkut baik/buruk). Superego berisi kata hati yang merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional, karena itu superego dapat dianggap sebagai aspek moral dari kepribadian manusia.

Apabila terdapat keseimbangan yang wajar dan stabil dari ketiga unsur (id, ego, dan superego), maka akan diperoleh struktur kepribadian yang wajar dan biasa. Namun, apabila terjadi ketidakseimbangan antara ketiga unsur tersebut, maka akan diperoleh kepribadian yang tidak wajar dan akan muncul neurosis yang menghendaki penyaluran.

Dalam novel Genesis menunjukkan bahwa tidak ada keseimbangan antara id, ego dan superego yang dialami tokoh Ibu. Pendorong id bertentangan dengan kekuatan pengekang superego. Penyimpangan kejiwaan yang di alami tokoh ibu adalah depresi dan skizofrenia, kemudian tokoh ibu mengalami halusinasi. Penyimpangan pada perilaku tokoh Ibu disebabkan oleh kehilangan seorang anak dan akibat tekanan batin yang di alaminya. Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan biasanya seseorang mengalami depresi akibat suatu kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpanya, misalnya kematian atau kehilangan seseorang yang sangat dicintai.

Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada penderita dengan gangguan jiwa, Halusinasi adalah terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera. Kualitas dari persepsi itu dirasakan oleh penderita sangat jelas dan berasal dari luar ruang nyatanya. Contoh dari fenomena ini adalah di mana seseorang mengalami gangguan penglihatan, di mana dia merasa melihat suatu objek, namun indera penglihatan orang lain tidak dapat menangkap objek yang sama.

Dalam novel Genesis halusinasi yang dialami tokoh ibu tampak pada dialog berikut yang dikutip dari novel; Semua berjalan lancar-lancar saja seperti siang sebelumnya sehingga ibu tiba-tiba berkata kepada piring Westri yang masih utuh dengan makanan tak tersentuh; makanmu kok cuma segitu, nambah ya Wes? Dan ibu mengambilkan lagi secentong nasi serta lauk perkedelnya. Setelah itu ibu kembali sibuk dengan makanannya sendiri. (Kumala. 2005: 98). Dialognya yang lain; Kadang ibu berteriak marah pada dirimu. Memperingatimu agar jangan bermain gunting, jangan dekat-dekat kompor, jangan keluar terlalu sore sebab tak baik bagi anak perempuan. Seingatku, ibu bahkan tidak pernah menasehatimu sebegitu rupa saat kau masih benar-benar ada di rumah ini. (Kumala. 2005: 105).

Depresi yang berkepanjangan membuat seseorang rentan mengalami neurosis. Sigmund Freud berpendapat bahwa sumber dari neurosis adalah konflik batin. Neurosis dapat diartikan sebagai suatu gangguan kejiwaan yang mempunyai akar psikologis dengan tujuan menghindari atau mengurangi rasa cemas. Timbulnya neurosis pada kejiwaan manusia disebabkan oleh kesalahan penyesuaian secara emosional karena tidak dapat diselesaikannya konflik tak sadar. Penderita neurosis mengalami kecemasan karena adanya konflik yang tidak dapat diatasi secara benar dan akan muncul sesuai dengan tipe kepribadian seseorang. Tokoh ibu dalam novel ini diceritakan sebagai seorang yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Kenyataan bahwa anaknya hamil sebelum menikah menjadi aib yang tidak dapat diterima, membuat Pawestri diusir oleh ayahnya. Kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan, yang semakin hari semakin menjadi-jadi sehingga membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya.

Schizofhrenia merupakan penyakit otak yang sanggup merusak dan menghancurkan emosi. Selain karena faktor genetik, penyakit ini juga bisa muncul akibat tekanan tinggi di sekelilingnya. Ada dua gejala yang menyertai schizofrenia yakni gejala negatif dan gejala positif. Gejala negatif berupa tindakan yang tidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya, seperti mengurung diri di kamar, melamun, dan sebagainya. Sementara gejala positif adalah tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungannya, seperti mengamuk dan berteriak-teriak.

Dilihat dari gejalanya tokoh ibu mengalami skizofrenia negatif, yaitu berupa tindakan yang tidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya, seperti mengurung diri di kamar, melamun, dan sebagainya. Seperti yang terlihat dalam kutipan novel tersebut; Kadang jika kucari di mana pun ibu tidak menyahut, itu berarti ibu sedang menangis di kamarnya. Kudekati dan kutanya kenapa. Tapi jawabannya selalu sama; menggeleng sambil menyebutkan nama Pawestri. (Kumala. 2005: 91). Selanjutnya; Akhir-akhir ini ibu jadi lebih sedih. Rindunya pada Pawestri mulai tidak dapat dibendung. Di antara ketakutannya pada bapak, ibu mulai menciptakan dramanya sendiri. (Kumala. 2005: 93

Selain itu, tokoh ibu dalam novel ini diceritakan tidak hanya mengalami gejala skizofrenia negatif, tetapi juga mengalami gejala skizofrenia positif yakni adanya tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungannya, seperti mengamuk dan berteriak-teriak. Bahkan tokoh ibu tidak mengenali lagi wajah anaknya (Pawestri) yang datang mengunjunginya di Rumah Sakit Jiwa. Hal ini terlihat dari kutipan novel berikut yang dipaparkan pada bagian awal cerita; “suster, aku telah menelantarkan anakku. Aku tak berani membantah suamiku yang menganggap anak perempuanku yang nomor satu tidak ada.” (Kumala. 2005: 5). Kemudian gejala skizofrenia positif tersebut jelas terlihat dari kutipan novel berikut; ”PERGI! PERGI! PERGI!” Ibu mulai histeris. Teriak-teriak. Dia mulai menggeleng-geleng kepala keras-keras lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri. Perawat dating, membawanya dengan paksa. “PERGI! SEKARANG ADALAH SAATNYA MAKAN SIANG BERSAMA DENGAN ANAKKU! PERGI! JANGAN GANGGU AKU LAGI! PERGI! PERGI!” (Kumala. 2005: 6)

Freud dalam psikoanalisanya menekankan bahwa asal mula timbulnya kekacauan-kekacauan watak, sumber sakit syaraf, terletak lebih-lebih dalam hubungan-hubungan ‘aku’ sebagai obyek dan subyek dengan orang lain. Pendekatan psikologi sastra bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Psikoanalisis sebagai suatu pendekatan dapat pula digunakan dalam kaitannya dengan sebuah karya sastra. Utamanya dalam usaha memasuki karakter tokoh-tokoh yang terdapat di dalam suatu karya sastra, psikoanalisis menyentuh unsur dasar dari alam pikir manusia. Demikianlah analisis psikologi sastra dalam novel Genesis karya Ratih Kumala. Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner.

 

-Jendela-

Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia Unand.

 

Sudah pernah dipublikasikan di Koran Singgalang, Minggu 13 Juni 2010.

By Warna dan Suara Hati Irmadani Posted in artikel

2 comments on “GANGGUAN KEJIWAAN TOKOH IBU DALAM GENESIS

  1. Ping-balik: Gangguan Kejiawaan Tokoh Ibu dalam “Genesis” : Ratih Kumala’s Little Blog

    • Salam kenal kak..
      Aku suka novel-novel karya kakak terutama novel genesis ini. Mohon kritik dan saran dari kakak….terimakasih.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s